Site Statistics

  • Users online: 1 
25 Oktober 2021

GERBANG INFORMASI EDUKASI

Perjalanan Samuel Samsuddin Meraih Sukses lewat Kebun Hidroponik

Perjalanan Samuel Samsuddin Meraih Sukses lewat Kebun Hidroponik
"Karena pada saat itu di Instagram pengusaha-pengusaha muda tuh lagi pada banting setir dan ngasih kayak arahan ke depan bahwa yang enggak bakal berhenti nih salah satunya adalah ketahanan pangan,"
2 0

Layaknya anak laki-laki tertua di keluarga pada umumnya, Samuel Samsuddin punya beban tanggung jawab besar di pundaknya. Banyak rencana yang telah ia pikirkan untuk mengemban hal itu. Namun ingin hati, apa guna tangan.

Kondisi kurang mengenakkan harus ia hadapi, saat ayahnya sakit stroke 2019 silam. Cita-cita dan mimpinya untuk bekerja dan tinggal di Jepang luruh seketika.

Setelah mendengar kabar tersebut, Samuel diminta untuk pulang dan melanjutkan usaha bengkel ayahnya. Mau tak mau ia tak bisa lari dari takdirnya. “Sedih aja sih kayak tiba-tiba rencananya hancur. Tapi gimana gue kan punya tanggung jawab,” katanya.

Meski tidak familiar dengan bisnis produksi suku cadang mobil, laki-laki berusia 25 tahun itu tetap berusaha melakukan yang terbaik. Setelah mulai memahami bisnis ayahnya, sayangnya Samuel harus menghadapi kondisi sulit bernama pandemi.

Hampir semua lini usaha melilit, termasuk bengkel ayahnya. Ketika momen itu ‘menyerang’, Samuel tahu dia tidak bisa dan tidak boleh tinggal diam.

“Gue harus cari semua kesempatan yang ada. Karena ada omongan kalau kelinci aja tuh punya tiga sarang. Jadi gue harus bikin usaha lain yang bisa jalan juga walau ada pandemi ini,” jelas Samuel.

Jadi dia mulai putar otak mencari usaha lain yang mungkin bisa jadi alternatif dan pilihannya jatuh pada hidroponik.

“Karena pada saat itu di Instagram pengusaha-pengusaha muda tuh lagi pada banting setir dan ngasih kayak arahan ke depan bahwa yang enggak bakal berhenti nih salah satunya adalah ketahanan pangan,” terangnya.

Dari situ, Samuel memilih untuk berbisnis pangan. Namun karena tinggal di kota besar tepatnya Bekasi, tentunya ia tidak bisa membuat kebun besar atau ladang.

Pikirnya yang paling memmungkinkan adalah hidroponik. “Penghasilannya tinggi dan cenderung bisa dilakukan di perkotaan karena kita enggak butuh tanah kan,” jelasnya.

BACA JUGA:

Pada Juli 2020, laki-laki bernama lengkap Samuel Samsuddin ini mulai bergerak. Mulai dari melakukan riset, belajar dan ikut seminar daring, serta bertanya pada semua orang tentang hidroponik.

Akhirnya pada awal Agustus 2020, lahan seluas 1000 meter di Jalan Raya Kranggan, Bekasi mulai disiapkan untuk jadi kebun hidroponik.

Sebelum mulai menanam saja, Samuel harus putar otak mempersipakan banyak hal. Seperti mencari vendor material, mempersiapkan instalasi hidroponik, memilih kontainer untuk dijadikan kantor, hingga mencari pekerja.

“Kesulitannya waktu kita bikin hidroponik dari skala rumahan ke skala industri itu ternyata beda banget. Ya dari masalah instalasinya berubah errr terus perhitungan biayanya pasti lebih besar,” terangnya.

Setelah tempat siap, Samuel belum bisa bernafas lega. Dia harus menanam dan berharap tanamannya tumbuh dengan baik.

Untungnya saat panen pertama di September 2020, sayuran pakcoy di kebunnya bisa tumbuh dengan subur dan sehat. Keberhasilan pertama ini cukup membuatnya bangga.

“Seneng aja sih karena itu kan pertama kali kita nyobain nanem. Dan ternyata sekali coba bisa berhasil. Apalagi itu kan instalasinya baru dan baru kita nyobain di situ. Beda tempat kan bisa beda hasilnya,” jelasnya.

Hasil panen pertamanya itu akhirnya dibagikan pada orang terdekat sebagai tester. Banyak tetangga, teman, dan saudara yang langsung memuji melihat perjuangan Samuel.

Setelah keberhasilan pertamanya, dia meresmikan usahanya dan memberi nama kebunnya Rubico Hydroponic. Kata Rubico diambil dari sungai Rubicon yang terletak di timur laut Italia.

Ia terinspirasi dari frasa Julius Caesar alea iacta est yang berarti melintasi Rubicon. Pada 49 SM, Julius Caesar dihadapkan pada dua pilihan sulit. Tetap berada di Gaul dan menyerahkan kekuasannya pada musuh atau melintasi Sungai Rubicon dan menyatakan peperangan.

Caesar memilih perang sehingga munculah istilah melintasi Rubicon. Ketika sudah melewatinya, tidak ada lagi jalan kembali. Pilihannya hanya dua, menang atau mati dalam usaha untuk mendapatkan kemenangan tersebut. “Jadi artinya pantang mundur. Totalitas,” jelas Samuel mengenai makna di balik nama kebunnya.

Setelah berhasil dalam percobaan pertamanya, tidak ada lagi kata mundur. Dia hanya berharap penanaman kedua juga akan berhasil.

Sayangnya merintis usaha yang berkaitan dengan makhluk hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada hal-hal yang berada di luar kendalinya.

“Itu kan matahari awannya enggak bisa dikontrol. Kadang-kadang terlalu panas atau terlalu lembab. Akhirnya banyak hama yang muncul terus merusak sayurnya lah,” ceritanya.

Memasuki musim penghujan membuat sayur di kebun hidroponiknya jadi tidak bisa tumbuh subur. Hal ini sempat membuatnya sedikit sedih dan kecewa.

“Merasa sayang aja karena ternyata masih banyak variabel yang harus kita atur. Tapi malah akhirnya menaikkan semangat lah karena dari kesalahan yang ada kita bisa belajar lagi supaya makin bagus ke depannya,” lanjutnya.

Meski mengalami situasi yang tidak enak, Samuel memilih untuk menghadapinya saja.”Ya hadapin aja lah mau gimana? Ubah ‘mindset’nya ‘apa yang bikin lu gagal?’, terus cepet-cepet identifikasi supaya kegagalannya sekali aja. Malah jangan terlalu berlarut-larut dalam kegagalan,” sarannya.

Samuel segera mendata masalah yang dihadapinya dan langsung berusaha memperbaikinya. Dia sudah mencoba menyemprotkan pestisida alami untuk menghalau hama.

Apakah berhasil? Sayangnya tidak. Tapi tidak menyerah, Samuel berjanji akan mencari solusi lain. Dia juga berencana untuk mengganti tata letak kebunnya dengan harapan dapat memengaruhi pertumbuhan sayur. Dari awal Samuel tahu banting setir dari usaha besi (sparepart otomotif) ke tanaman jelas sesuatu yang berisiko bahkan mungkin terkesan ‘gila’. Apalagi dia melakukannya di tengah pandemi. Tapi takut tidak ada dalam kamusnya.

Seperti kisah Julius Caesar, saat pertama kali Samuel berani ambil langkah membangun kebun hidroponik ini, there’s no turning back. Ia hanya punya dua pilihan, sukses atau berjuang mati-matian untuk meraihnya.

Dalam perjalannya, mungkin Rubico Hydroponic yang masih seumur biji jagung ini jauh dari kata sukses. Namun proses naik turun yang dialami Samuel sudah buktikan keberaniannya untuk kreatif di masa pandemi.

Berani keluar dari zona nyaman dan ambil tanggung jawab sebagai anak laki-laki tertua sudah menunjukkan bahwa dia memiliki mental untuk jadi orang sukses. Perjalanan masih panjang, tapi setidaknya Samuel kini tengah on the way menuju kesuksesan.***

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

error: Dilarang Copy Paste !!
LIVE OFFLINE
track image
Loading...