25 Oktober 2020

GERBANG INFORMASI EDUKASI

Ave Maryam, Konflik Antara Cinta dan Agama yang Kurang Klimaks

Ave Maryam, Konflik Antara Cinta dan Agama yang Kurang Klimaks

Ave Maryam, Konflik Antara Cinta dan Agama yang Kurang Klimaks

Seiring berjalannya waktu, tumbuh benih-benih cinta antara Maryam dengan Romo Yosef. Namun, tentunya hal ini menjadi sebuah masalah.
1 0

Pada September 2020 ini, Netflix kembali menghadirkan sejumlah film produksi sineas Tanah Air, salah satunya adalah Ave Maryam. Film yang digarap oleh Ertanto Robby Soediskam ini sebenarnya sudah tayang sejak 2019 lalu di sejumlah ajang festival persinemaan serta beberapa jaringan bioskop Indonesia.

Berlatar tempat di Semarang pada 1998, film ini memfokuskan ceritanya seorang biarawati bernama Maryam yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi. Maryam dikisahkan mengabdi dengan cara merawat beberapa biarawati lanjut usia yang tinggal di sebuah asrama. Mulai dari menyiapkan makanan, memandikan para biarawati tersebut, hingga membersihkan gereja.

Suatu hari, Maryam bertemu dengan seorang pastor muda yang dipanggil dengan sebutan Romo Yosef. Karakter pastor yang diperankan oleh Chicco Jerikho tersebut digambarkan sebagai pria dengan penampilan yang tampan serta ahli orkestra.

Romo Yosef dikisahkan membantu persiapan perayaan Natal di gereja tempat Maryam bertugas.

Review Film Ave Maryam (2019)
Salah satu adegan Maudy Kusnaedi sebagai Suster Maryam. (Istimewa)

Seiring berjalannya waktu, tumbuh benih-benih cinta antara Maryam dengan Romo Yosef. Namun, tentunya hal ini menjadi sebuah masalah.

Pasalnya, profesi yang dijalani oleh keduanya membuat mereka tak dibolehkan memiliki hubungan asmara karena harus menjadi pelayan tuhan. Setelah itu, terjadilah konflik yang melibatkan perasaan cinta dengan rasa takut akan perbuatan dosa.

Sayangnya, permasalahan hubungan asmara terlarang antara Maryam dengan Romo Yosef tersebut kurang dieksplorasi secara mendalam sehingga ikatan percintaan mereka tidak intens.

Faktor yang menyebabkan hal ini mungkin karena minimnya durasi atau adanya sebuah adegan yang dihapus dalam versi yang rilis di Netflix ini. Hal ini pun membuat konflik antara cinta dan agama pada film ini kurang memuncak alias klimaks.

Ertanto Robby dikenal sebagai sosok sutradara yang menggarap sebuah film dengan dialog antar-karakternya yang terbilang sangat minim. Hal ini pun dilakukan oleh Ertanto Robby pada film Ave Maryam

Menariknya, film ini masih bisa memiliki banyak makna serta tetap mampu menyampaikan apa yang ingin disampaikan oleh karakternya.

Kemampuan berakting dari para pemain tentunya menjadi salah satu faktor keberhasilan dari sebuah film. Hal ini pun sukses dilakukan oleh jajaran pemeran dari film Ave Maryam, mulai dari para aktor utamanya hingga pemain sampingan.

Mereka berhasil melakukan akting dengan cara yang sangat ekspresif sehingga meskipun filmnya minim dialog, emosinya tetap bisa tersampaikan ke penonton lewat raut wajah ataupun gestur tubuh. Hal ini tentunya sangat membantu poin sebelumnya.

BACA JUGA:

Melalui film ini kita juga bisa menyaksikan penampilan apik dari sutradara kawakan Indonesia, Joko Anwar, yang berperan sebagai Romo Martin.

Harus diakui, unsur visual menjadi faktor yang paling memikat dari film Ave Maryam. Bangunan-bangunan tua di Semarang yang bergaya Eropa serta pemandangan hutan dan gunung pada film ini ditampilkan dengan visual yang penuh warna serta tone yang hangat. Hal ini membuat para penontonnya menjadi betah saat menyaksikan film tersebut.

Selain itu, komposisi gambar dari angle kamera setiap adegan yang dihadirkan oleh Ertanto Robby pada film ini juga sangat simetris. Meski kemungkinan komposisi tersebut tak terlalu diperhatikan penonton saat menyaksikan filmnya, hal ini terbilang cukup penting.

Salah satu adegan doa ekaristi, Maudy Kusnaedi sebagai Suster Maryam. (Istimewa)

Pasalnya, komposisi gambar yang simetris membuat orang jadi mengetahui harus fokus ke mana saat menyaksikan filmnya karena adanya ‘garis’ yang mengarahkan pandangan penonton.

Film ini memiliki jalan cerita yang sederhana dengan hubungan rahasia antara seorang Romo (Pastor) dan Suster di gereja katolik sebagai ide utama.

Berdurasi sepanjang 73 menit, tak banyak adegan percakapan yang terlontar dari aktor dan aktrisnya, penonton diberi kebebasan untuk memaknai sesuai interpretasinya masing-masing.

Meski mengambil ide utama yang cukup berbeda dari film Indonesia umumnya, Ave Maryam bisa jadi salah satu oase di tengah kegaduhan agama yang terjadi di negeri ini.***

Ave Maryam Trailer
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %
error: Dilarang Copy Paste !!