30 Oktober 2020

GERBANG INFORMASI EDUKASI

GOR Saparua Bandung era 90an, Kenangan Ajang Pentas Musik Underground

Gor Saparua Bandung era 90an, Kenangan Ajang Pentas Musik Underground

Gor Saparua Bandung era 90an, Kenangan Ajang Pentas Musik Underground

Setiap hari minggu pagi sekitar pukul 10an pagi para penggemar musik ini akan berkumpul di taman saparua sampai di depan gor saparua itu sendiri. Bergerombol sesuai kostumnya masing-masing
1 0

Gelanggang Olahraga (Gor) Saparua Bandung adalah tempat yang bersejarah bagi perkembangan musik dan budaya anak muda Bandung bahkan mungkin di Indonesia.

Pada era 90an, hampir setiap hari minggu sepanjang tahun kecuali bulan puasa, diadakan acara musik underground disana, dari aliran musik metal, gothic, grindcore, hardcore, punk, ska, melodic, dan atau campuran dari semuanya.

Pada era itu di Bandung terklasifikasi jadi tiga besar aliran musik, yaitu punk, hardcore dan grindcore. Setiap aliran tersebut memiliki ciri kostum yang khas, dan ketika acara musik berlangsung akan dengan otomatis terbagi tiga grup penggemar.

Anak punk dengan kostum rambut mohak, atau asal rancung dan biasanya berwarna-warni, sepatu boots, kaos band punk lokal ataupun internasional atau kaos polos hitam, jaket kulit lengkap dengan spike dan emblem band punk atau logo anarki.

BACA JUGA:

Anak grindcore dengan rambut gondrong dan baju hitam tangan panjang polos atau bersablonkan band grindcore, celana jeans, sepatu relatif bebas. Anak hardcore dengan topi, baju band hardcore yang gombrang, celana jeans gombrang juga, sepatu sneaker biasanya sepatu yang sering dipakai skater atau converse all star dan tas ransel.

Setiap hari minggu pagi sekitar pukul 10an pagi para penggemar musik ini akan berkumpul di taman saparua sampai di depan gor saparua itu sendiri. Bergerombol sesuai kostumnya masing-masing.

Kadang ada perselisihan antar grup beda aliran ini, dan ketika ini terjadi dengan hanya melihat kostumnya maka kita akan tahu siapa yang sedang bersitegang, dan akan dengan sendirinya tahu harus berdiri dimana, sesuai kostumnya masing-masing.

Pada saat melantai untuk berjingkrak menikmati musik pun nampak tertib, ketika giliran band punk, maka yang turun hanya anak punk saja, dan begitupun juga ketika band grindcore atau hardcore yang tampil.

Semakin detail kostumnya maka semakin jelas pijakannya dalam menentukan aliran musik mana yang dipegang, bahkan sampai pada kesehariannya pun akan terlihat. Sampai ada istilah punk abis, grindcore abis, dan hardcore abis.

“Istilah ini lahir karena dedikasi para penggemar musik akan aliran musik yang dipilihnya, semakin “abis” dia maka semakin dihargai oleh teman-temannya, baik lintas aliran musik atau di aliran musiknya sendiri,” ujar Ajie salah seorang penggiat musik underground di Bandung era 90an. .

Namun menurut Ajie, kebalikannya dari “abis” adalah “borok”, yaitu ketika tidak jelas dedikasinya dimana, identitasnya kurang jelas, kostumnya tidak sesuai atau sekedar merusak citra dari setiap aliran musik tadi diatas.

“Semua aturan mainnya jelas, dan dipanggung saparua itu semua di tunjukkan oleh grup band yang ada yang saling menghargai setiap grup band lainnya walaupun berbeda aliran,” kilahnya.

Ia menuturkan, semua aliran bermain di panggung yang sama, selama menyuguhkan musiknya dengan baik. Semakin apik musiknya, semakin abis dedikasinya, semakin menghayati aliran musiknya, semakin dihargai dan disegani. Totalitas, itulah yang menjadi kata kuncinya.

“Totalitas sebagai musisi, totalitas dalam menghayati teks atau pesan dari lagu yang dibawakan atau didengarkan, totalitas memilih pilihannya dan menjalaninya dalam keseharian,” terangnya.

Aktifitas mingguan yang rutin dilaksanakan di Gor Saparua, kata Ajie, menjadi ajang pertunjukan totalitas para penggemar musik, bukan sekedar acara musik semata. Hasil totalitas ini terlihat jelas di era berikutnya. Semangat yang kuat akan kemandirian.

“Membuat sendiri stiker atau bahkan kaos dengan pesan-pesan dari band favoritnya, yang pada saat itu relatif sulit mendapatkannya. Lahirnya band-band lokal yang menciptakan lagu sendiri dengan muatan lokal pula,” sambung Ajie.

Beriringan dengan itu semua, menurut Ajie, studio-studio band bermunculan sekaligus studio rekaman mandiri dengan fasilitas seadanya. Selain itu ada juga studio yang menjual pernak-pernik band lokal maupun internasional hasil produksi sendiri.

“Pada masa itu membeli kaos band orisinil itu cukup mahal. Lambat laun dari kegiatan mingguan di saparua ini menjadi industri lokal yang cukup mandiri. Bayangkan, hampir setiap minggu acara musik di saparua diadakan dan tiket di setiap acara itu hampir selalu habis terjual. Jualan sampingan studio musik, pernak-pernik band pun laris terjual, bahkan menjadi cikal bakal industri kaos “distro” di Bandung,” terang Ajie.

Kira-kira ini adalah cerita 23–24 tahun yang lalu, anak muda di Bandung sekarang mungkin banyak yang tidak tahu dengan cerita ini. Akar sebuah budaya kreatif di Bandung dari era akhir tahun 90an.

Semenjak terhubung oleh tol cipularang di akhir tahun 80an, akselerasi ekonomi di Bandung ikut terangkat, dan semangat-semangat totalitas dan kemandirianpun mulai terlibas percepatan ekonomi, yang kemudian bermutasi menjadi industri kreatif.

Setiap jaman memang memiliki semangatnya masing-masing, penanda semangat jaman era itu adalah sebuah Gor di taman Saparua (Maluku) Bandung.***

Laporan : ERICK (Kontributor)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
error: Dilarang Copy Paste !!