2 Desember 2020

GERBANG INFORMASI EDUKASI

Joybubbles, Kisah Tunanetra yang Meretas Sistem Telepon

Joybubbles, Kisah Tunanetra yang Meretas Sistem Telepon
Ketika perangkat ini dipasang ke telepon rumah, akan memungkinkan semua panggilan masuk diterima tanpa biaya ke pemanggil.
0 0

Joe Engressia, yang lebih dikenal sebagai Joybubbles, sejak kecil sudah tertarik dengan sistem telekomunikasi. Pada tahun 50-an, sistem ini sedang berkembang dengan amat pesat. Ia telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari sistem telepon, bahkan mencoba untuk meretasnya agar dapat melakukan panggilan gratis.

Joe terlahir buta pada tahun 1949. Begitu pula adiknya yang tunanetra. Mereka berdua menjalani masa kecil yang cukup suram, dengan ayahnya sering kali melakukan kekerasan kepada ibu mereka. Setiap malam, ia mendengar suara teriakan ibu yang memekik menakutkan; dan hanya dengungan nada teleponlah yang dapat menenangkannya

Beranjak remaja, ia menjadi sangat terobsesi terhadap sistem telekomunikasi dan jaringan telepon di rumahnya. Ia menyadari, sistem telepon dapat diretas, hanya dengan bersiul sesuai nada telepon yang tepat (yang menandakan akhir dari panggilan ke sistem telepon).

Akibatnya, panggilan antara Joe dan pengguna telepon lain akan terputus, tetapi panggilan telepon Joe juga masih tersambung ke sistem telepon. Karena itulah, ia dapat menjelajah setelah tipuan nada itu; dan ia dapat menelepon ke mana atau ke siapa saja secara gratis.

Tanpa diduga, ternyata banyak juga remaja lain yang melakukan hal serupa, seperti yang dilakukan oleh Joe. Kebanyakan dari mereka pula tunanetra. Mereka menamakan teknik tersebut sebagai phone phreaking. Layaknya penyamaran, mereka semua menggunakan nama palsu, seperti Kapten Chrunch, Jack the Rip-off, dan lain-lain.

Bagaimanapun phone preaks tak hanya main-main. Kreativitasnya juga telah menciptakan berbagai macam teknologi baru, seperti sebuah alat peretas yang disebut black box. Ketika perangkat ini dipasang ke telepon rumah, akan memungkinkan semua panggilan masuk diterima tanpa biaya ke pemanggil.

Steve Jobs dan Steve Wozniak, para pendiri perusahaan Apple, sangat kagum dengan teknik phone preaks ini. Bahkan Jobs mengatakan:jika saja tidak ada black box, mungkin tidak akan pernah ada Apple.

Sebelum mendirikan perusahaan Apple, mereka berdua sempat menciptakan dan menjual alat yang disebut blue box.

BACA JUGA:

Akhir kisah Joybubbles

Setelah ditangkap FBI dan dipenjara selama tiga tahun, Joe sendiri pindah ke Minneapolis pada tahun 1980. Ia kemudian melakukan beberapa podcast di saluran telepon. Ia banyak menceritakan tentang masa kecilnya dan mengaku tidak mendapatkan masa kecil yang layak.

Ia lantas memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Joybubbles; menyatakan dirinya berusia lima tahun untuk selamanya; dan menganggap bahwa ia akan terus menjadi anak kecil. Mungkin inilah yang membuatnya dijuluki “Peter Pan di saluran telepon”.

Joybubbles meninggal dunia pada tahun 2007, saat usianya yang ke-58 tahun. The New York Times kemudian membuat obituari, bersama dengan teman serta keluarganya, untuk melakukan peringatan dengan panggilan konferensi selama empat jam melalui telepon.****

Sumber: Kumparan

Radio internet Wartakan.ID yang juga dikenal sebagai web radio, net…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Site Statistics

  • Users online: 0 
error: Dilarang Copy Paste !!